eBook 14-2 MEMPERTEMUKAN PAK NAS DAN PAK YANI


(sambungan)


Pelantikan Pak Yani menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat berlangsu..11g pada tanggal 21 Juli1962, dan serah terima jabatan dengan Pak Nasution empathari sesudahnya.

Beberapa hari kemudian suami saya ditetapkan menjadi Asisten IV Men/Pangad atau Asisten Logistik, bukan sebagai Asisten·I seperti yang direncanakan semula. Bagi suami saya hal itu tidak menjadi masalah, dan siap melaksanakan tugasnya.

Cepat saja suami saya membuat rencana, antara lain penertiban administrasi dalam berbagai bidang, seperti pada bidang intendans, peralatan, angkutan, perhubungan, dan PINDAD. Lembaga-lembaga itu secara organisasi berada langsung di bawah Menteri/Pangad, namun berada di bawah koordinasi Asisten IV sebagai penanggung jawab. Administrasi Logistik ini tampak kurang sempuma selama kegiatan operasi pembebasan Irian Barat. Hal itu disebabkan karena selama Trikora pelaksanaan operasi sangat diutamakan.

Pemikiran Asisten IV Men/Pangad yang baru itu sudah menjangkau ke depan begitu konfrontasi dengan Belanda sudah lewat. Satuan dan jawatan atau dinas yang semula ditugaskan mendukung Trikora dan Komando Mandala harus kembali ke induknya semula, kecuali yang dipersiapkan untuk mengamankan Propinsi Irian Barat. Peralihan administrasi dari keadaan operatif kembali pada keadaan semula yang stabil sangat memerlukan penertiban. Dalam hubungan ini dilakukanlah kerja sama dengan Asisten-asisten Men/Pangad lainnya, terutama dengan Asisten 7/Keuangan Kolonel D. A shari, yang kemudian dengan penggantinya Kolonel Alamsjah Ratu Perwiranegara.

Berbarengan dengan penertiban administrasi, juga diusahakan peningkatan kesejahteraan prajurit. Makanan, pakaian dan asrama diperbaiki, sekalipun keadaan ekonomi negara memburuk dan inflasi melonjak sebagai akibat konfrontasi dalam masalah Irian Barat yang cukup lama. Kepada Komando-komando Daerah Militer (Kodam) diberi wewenang untuk meningkatkan usaha kesejahteraan prajurit. Dalam hal ini modal seperlunya diberikan. Dalam hubungan ini Kodam Siliwangi tampak berhasil melalui pembentukan Propelad.

Mengenai pengangkatannya sebagai Asisten IV Menteri j Panglima Angkatan Darat, suami saya pernah berkata kepada saya: “Mama, kita harus hati-hati dan tertib dalam segala hal. Karena tugas saya dalam bidang logistik, oranglain mudah mengatakan yang tidak-tidak, bahkan bisa memfitnah pula."

Setelah setahun Iamanya menjabat sebagai Asisten IV Men/ Pangad, pangkat suami saya dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, tepatnya pada tanggal 1 Juli 1963. Dalam bulan Desember tahun itu juga ditugaskan kepadanya mengikuti pendidikan Associated Command and General Staff Collegedi Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Selain dia berangkat juga ke Fort Leavenworth Kolonel Sudirgo dan Kolonel Samosir.

Dalam surat-suratnya kepada saya dari Kansas, ia selalu berpesan agar saya menjaga anak-anak sebaik-baiknya. Pendidikan ini diselesaikan dengan baik dalarn bulan Juni 1964. Setibanya di Indonesia langsung kembali menjabatsebagai Asisten IV Men/Pangad.

*

Sejak awal tahun 1965 situasi politik di Indonesia makin condong ke kiri, dan tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia sudah duduk dalam Kabinet. Nasakomisasi berlaku di mana-mana, yang digunakan oleh PKl untuk memanfaatkan kesempatan. Begitu pula gagasan PKI hendak mendirikan Angkatan Kelima dalam jajaran ABRI sudah mendapat angin. Gagasan ini berasal dari Perdana Menteri RRC ketika itu, Chou En Lai. Konon ketika Dr. Subandrio berkunjung ke Beijing dalam bulan Januari 1965, Chou En Lai berjanji akan membantu 100.000 pucuk senjata untuk Angkatan Kelima. Pemasukan senjata sebanyak itu akan ditempuh tanpa melalui Departemen Pertahanan dan Keamanan. Memang, Jenderal Yani pun menolak gagasan pembentukan Angkatan Kelima.

Dalam pertengahan tahun 1965, suami saya mendapat laporan dari Kepala Angkutan Angkatan Darat dan Kepala Peralatan Angkatan Darat yang bertugas di pelabuhan Tanjung Periuk, bahwa ada sebuah kapal berbendera RRC yang berlabuh, dan kapten kapal itu melaporkan adanya muatan senjata. Suami saya segera mengemukakan soal itu dalam rapat Staf Pimpinan Angkatan Darat. Pengecekan dan pemeriksaan dilakukan di Tanjung Periuk, namun kapal sudah membongkar muatannya, termasuk barang-barang untuk Conefo (Conference of New Emerging Forces) yang direncanakan untuk diselenggarakan di Jakarta. Adapun senjata seperti yang telah dilaporkan sudah raib. Namun temyata senjata Chung itu dipergunakan oleh PKI dalam pemberontakan G-30-S/PKI.

*

Pada akhir Agustus 1965 suami saya pergi ke Medan bersama rombongan Men/Pangad Yani. Di depan Markas KODAM II Bukit Barisan rombongan pimpinan Angkatan Darat itu menerima pawai Soksi (Sentral Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia). Dari Kapten (waktu itu) E. Haro Rajagukguk yang menjabat sebagai Wakil Sementara Komandan Detasemen Markas Kodam II/BB saya mendengar di kemudian hari kisah pengalamannya waktu itu, saat ia duduk dalam satu kendaraan dengan suami saya. Orang lain yang ada dalam kendaraan itu hanya supir. Dalam perjalanan menuju rumah Panglima Kodam II/BB Brigadir Jenderal Daryatmo, Kapten Rajagukguk bertanya:
“Bagaimana, Pak? Kata orang Pak Yani bertentangan dengan Pak Nasution, dan Pak Yani sudah keluar dari garis Angkatan Darat."

Maksud Kapten Rajagukguk sebenarnya hendak bertanya dan ingin mengetahui, suami saya ikut Pak Nasution atau ikut Pak Yani.

Suami saya menjawab: uPada mulanya memang ada perbedaan pendapat, tetapi saya sudah mendekatkan keduanya. Namun demikian Pak Nas masih meminta jaminan, dan saya sudah menjamin. Tetapi Pak Nas memintajaminan yangnyata. Saya tanyakan lagi, bagaimana maksudnya jaminan yang nyata itu. Pak Nas menjelaskan, misalnya menerima pawai Soksi, mengangkat Peltu Suyono dalam peristiwa Bandarbetsi menjadi pahlawan, penerbitan koran Tjahaja, dan sebagainya. Jadi, hubungan Pak Nas dan Pak Yani sudah baik."

Demikianlah percakapan antara suami saya dan Kapten E. Haro Rajagukguk dalam mobil yang melaju menuju rumah Panglima Kodam II.

Rajagukguk mengatakan juga kepada saya, bahwa percakapannya dengan suami saya tersebut pernah diberitahukan kepada Pak Nasution. Adapun penjelasan Pak Nas yang diberikan sebagai berikut: "Memang pada periode 1965 itu sudah terjadi banyak bentrokan antara saya dan Bung Kamo. Jadi, kalau Pak Yani kelihatan memilih Bung Kamo itu logis. Pak Yani tempo-tempo meninggalkan saya; kalau ada rapat-rapat di Hankam, dia kirim Suprapto, dan Hidayat bilang bahwa sebenamya harus datang sendiri. Sebenarnya kortsluiting ini akibat kortsluiting dengan Bung Kamo. Kalau soal ideologi Pancasila tidak ada problem lagi antara saya dan Yani. Cuma dalam soal pergaulan dengan Bung Karno, Yani bisa, (sedangkan) saya tidak bisa. Dan, sesudah saya meninggalkkan Angkatan Darat, Yani bawa D.I. Pandjaitan. Jadi D.I. Pandjaitan banyak berperanan untuk mempertemukan saya dengan Yani."

Demikianlah penjelasan mengenai suami saya, dalam hubungannya dengan Pak Nas dan Pak Yani seperti yang dikemukakan oleh Letnan Kolonel (Pum.) E . .Haro Rajagukguk.

Kehadiran suami saya di Medan adalah dalam rangka kunjungan Menteri/ Panglima Angkatan Darat A. Yani yang melakukan perjalanan inspeksi ke daerah-daerah, mulai dari Aceh, Medan, Riau, Jambi, Palembang, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, Bali, sampai Nusa Tenggara Timur. Baru pada tanggal 27 September 1965 rombongan Pak Yani yang disertai oleh sernua Asistennya tiba kembali di Jakarta. Di kota-kota yang dikunjungi rombongan pimpinan Angkatan Darat itu menerima pawai Soksi. Selain bersama Pak Yani, suami saya juga melakukan berbagai kunjungan inspeksi tersendiri, agar secara langsung dapat melihat situasi yang sebenamya, sehingga dapat membuat rencana perbaikan selanjutnya.

Letnan Kolonel Zamzam dari Corps Intendans Angkatan Darat (ClAD) waktu itu, yang selalu dibawa oleh suami saya melakukan inspeksi ke berbagai daerah, bahkan ke garis depan pada masa Dwikora, sangat terkesan akan kesungguhan atasannya itu dalam menjalankan tugas. Di tempat-tempat yang dikunjunginya ia tidak minta diantar dengan mobil, bahkan menolak tidur di hotel atau rumah gubemur. Apalagi di garis depan dan tempat terpencil, Asisten IV Menteri/ Pangad itu me:milih tidur bersama prajurit di atas veldbed, di bawah tenda.

Sebelum berangkat inspeksi ke daerah tertentu, kata Letnan Kolonel Zamzam, suami saya memeriksa daftar kebutuhan yang sudah dikirimkan, baik persenjataan maupun perlengkapan dan kebutuhan prajurit sehari-hari. Angka-angka dalam anggaran diperiksa. Dan di daerah yang ditinjau semua kebutuhan kesatuan, prajurit dan keluarganya dengan ketat sekali diperiksanya, apalagi senjata dan pelurunya. Senjata harus bersih yang kotor harus digosok dengan minyak senjata.

Ia memberi contoh pula tentang kerapian penampilan dan kebersihan serta disiplin. Sepatu harus disemir sampai mengkilat. Makanan prajurit pun dicicipi dengan jalan makan bersama para prajurit. Semua kebutuhan harus dicatat oleh bawahannya, sehingga semangat prajurit, terutama yang bertugas di garis depan selalu tinggi. Dan bukan hanya disiplin yang selalu ditekankan, ia pun menganjurkan agar para prajurit berdoa dan menyembah Tuhan sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Selain itu ia pun pandai membuat suasana menjadi segar. "Karena itu Pak Pandjaitan sangat populer di tengah tengah prajurit, terutama di garis depan, karena mereka itu merasa diperhatikan," kata Pak Zamzam yang waktu itu masih berpangkat Letnan Kolonel dan yang selalu mengikuti perjalanan inspeksi suami saya.

kembali ke daftar isi